Bay-Bali-Bisa-Menanti

Bay Bali Bisa Menanti

Pulang sekolah Kakak asal saja memarkir sepedanya di garasi dan langsung menghambur ke dalam rumah. “Lho, anak bunda tidak memberi salam, nih?”, Bunda menyambut dengan teguran berhias senyuman.

“Assalamu ‘alaikum”, asal saja Kakak memberi salam dan langsung masuk ke dalam kamar tidurnya. “Wa ‘alaikum salam”, jawab Bunda sambil menghela nafas panjang. Setelah mencuci tangan dan kakinya, Kakak perlahan-lahan mendekati Bunda yang sedang duduk di ruang tengah. Kakak berhenti di sebelah kiri Bunda. Sejenak dia terdiam sambil mengamati pekerjaan Bunda.

“Bagaimana dengan rencana liburan kita, Bunda?” Kakak bertanya dengan suara lirih. “Jadi, kan? Kita, kan, sudah lama merencanakannya”

“Nanti tanya sama Ayah saja”, jawab Bunda.

“Tapi, kan, aku sudah lama mengimpikannya.”

“Ah, kamu, sih, semua-semua diimpikan. Bagaimana kabar Fadli, temanmu?”

“Aaaah, bunda jangan mengalihkan pembicaraan, dong. Tapi kita, kan, punya kesepakatan.”

“Ya, semoga tidak ada perubahan rencana dan kita jadi berlibur ke Bali.”

“Ke Bay Bali.”

“Ya, ke Bay Bali.”

“Dan aku akan …… “, Kakak tidak menyelesaikan kalimatnya karena mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. “Itu pasti mobil antar jemput Adik.”, dan dia sudah berlari ke teras depan.

* * *

“Assalamu ’alaikum …”, Ayah masuk ke dalam rumah dengan senyum memenuhi wajahnya.

“Wa ‘alaikum salam”, Bunda, Kakak, dan Adik serempak menjawab.

“Coba tebak, apa yang Ayah bawa?” tanya Ayah sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong baju. Kakak dan Adik serentak berdiri dan memegang tangan Ayah.

“Apa, Yah? Apa, Yah?”, anak-anak bertanya tidak sabar.

Sambil secara perlahan mengeluarkan tangannya dari kantong, Ayah memberikan jawaban, “Tiket pesawat ke Bali.” Lalu mengacungkan tiket itu ke udara.

“Yeeeee ………. “, seketika teriakan gembira memecah di ruang tengah.

“Ayah, sih, bagaimana?” Bunda berkata dengan lembut. “Kesepakatannya, kan, kita berlibur ke Bali kalau anak-anak mendapat nilai yang bagus. Sedangkan tes baru selesai hari ini dan kita belum mendapatkan hasilnya. Rapor baru dibagi pekan depan.”

“Tidak apa-apa, Bunda”, jawab Ayah sambil duduk di dekat Bunda. “Mumpung dapat tiket promo. Selain itu yang terpenting bagi Ayah adalah anak-anak sudah belajar dengan tekun. Belajar atas kesadaran sendiri tanpa harus disuruh-suruh.”

“Iya, lah, Bunda”, Kakak menimpali. “Kita, kan, juga rajin membantu Bunda.”

“Rajin kalau ada maunya.” Bunda membantah sambil tertawa.

“Nanti kita makan di rumah bambu yang atapnya dari ……… dari apa, sih, Yah?” tanya Adik

“Dari daun ilalang”, Kakak memotong. “Pasti menyenangkan sekali.”

“Ya”, Ayah membenarkan. “Di situ kita bisa makan sambil menikmati hembusan angin pantai.”

“Dan memandang laut di kejauhan.” Bunda menimpali.

“Dan duduk di atas bantal yang empuk.” Adik menambahkan.

“Dan aku akan …… “, Kakak tidak menyelesaikan kalimatnya karena terdengar ketukan di pintu depan. “Ada tamu”, kata Kakak sambil melompat ke ruang tamu.

* * *

Malam hari, Ayah, Bunda, Kakak, dan Adik duduk mengelilingi meja makan. Semua diam. Suasana hening. Seusai makan malam tadi Ayah menceritakan bahwa Ayah Fadli datang untuk meminjam sejumlah uang. Ayah menyanggupi. Tetapi akibatnya rencana liburan ke Bali terpaksa harus ditunda.

Kakak menunduk murung memandangi piring kosong. Pudarlah impian menyantap Chicken Mayo Sandwich dalam bayangannya. Adik bolak-balik memandang Ayah dan Bunda silih berganti. Tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi.

“Bukankah Fadli adalah teman baikmu?” Bunda bertanya sambil meletakkan tangannya di pundak Kakak. Kakak mengangguk lesu. Semangatnya meredup seiring dengan hilangnya kesempatan menikmati Banana Chocolate Crepe.

“Sahabatmu saat ini membutuhkan bantuan. Dia harus menjalani operasi dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Apakah Kakak rela menunda liburan ke Bali untuk menolong sahabatmu?” Dengan suara lembut Bunda mencoba untuk merayu Kakak.

Kakak bungkam. Impiannya telah layu. Tidak ada lagi Coconut Paradise.

“Operasi ini adalah kesempatan terbaiknya untuk sembuh.” Ayah menambahkan. “Sementara ini kita belum memiliki alternatif lain untuk mengobatinya. Bila kesempatan ini terlewat, kamu bisa kehilangan seorang sahabat.”

“Kehilangan sahabat,” Kakak berkata dalam hati, “Oh, tidak.” Kakak memang memiliki banyak teman. Tetapi Fadli adalah teman sebangku, teman belajar bersama, teman main bola, main kelereng, main layang-layang, dan mereka sudah bersama sejak masih TK.

Kakak mengangkat kepalanya bergantian memandang Ayah dan Bunda. Sambil mencoba tersenyum dia berkata,“Aku tidak ingin kehilangan seorang sahabat.” Kakak menundukkan kepalanhya lagi. “Aku ingin belajar bersamanya lagi.”

Ayah dan Bunda saling berpandangan.

“Dan aku akan …… “, Kakak tidak menyelesaikan kalimatnya karena terdengar ketukan di pintu depan. “Mungkin Ayah Fadli”, kata Ayah sambil bangkit dari tempat duduknya.

* * *

Malam telah sempurna menyelimuti bumi. Kakak dan Adik telah berbaring di tempat tidurnya masing-masing. Keceriaan terbayang di wajah mereka. Tadi sore mereka sekeluarga telah menengok Fadli. Operasi yang dijalaninya telah bejalan sukses. Kakak bisa berharap untuk belajar bersama lagi, bermain bersama lagi, dan dia tidak akan duduk sendiri di dalam kelas lagi.

Kakak merasakan kebahagiaan membuncah di dalam hatinya. Semula dia berharap pada liburan kali ini akan melalui saat-saat membahagiakan bersama keluarganya di Bay Bali. Tetapi rencana itu terpaksa harus ditunda.

Namun Kakak ternyata tidak perlu terlalu lama larut dalam kesedihan. Mengorbankan impian yang telah menghiasi tidurnya selama berbulan-bulan demi menolong sahabatnya ternyata telah memberikan kebahagiaan yang tidak kalah besar. Selain itu Ayah telah merencanakan acara liburan yang lebih sederhana. Mungkin tidak ada Chicken Mayo Sandwich atau Banana Chocolate Crepe atau Coconut Paradise. Tetapi selama bersama keluarganya, dia akan merasakan kebahagiaan yang sama.

“Dan aku akan memberi semangat kepada Fadli agar cepat sembuh.” Kakak berkata dalam hati. “Bila Fadli telah pulang dari rumah sakit aku akan menengoknya setiap hari.”

“Dan aku akan tetap rajin belajar, walaupun tanpa iming-iming hadiah. Belajar dengan kesadaran sendiri tanpa disuruh-suruh.”

“Dan aku akan …… “, Kakak tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena telah terlelap. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Sahabatnya akan segera kembali. Sementara Bay Bali masih bisa menanti. Dan dia berjanji, akan datang suatu saat nanti.

Semarang, 16 April 2014

* * *

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s