no-steal

Ojo Korupsi Ojo Ngapusi

Pemerintah dan rakyat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pemerintah tidak akan dapat menjalankan program yang dirancangnya bila tidak mendapat dukungan dan ketaatan dari rakyat. Sebaliknya, rakyat tanpa pemimpin akan tercerai-berai dan tidak akan dapat memenuhi segala kebutuhannya dan menyelesaikan setiap persoalannya dengan baik.

Masing-masing memiliki hak yang layak untuk ditunaikan. Pemerintah memiliki hak untuk didengar dan ditaati, sedangkan rakyat memiliki hak untuk dilindungi, dipenuhi semua kebutuhannya, dan diselesaikan setiap masalahnya.

Dalam hal ini ada tiga kondisi dalam pemerintahan yang mungkin terjadi.

Pemerintah Bekerja dengan Baik

Ketika pemerintah telah bekerja dengan baik, memperhatikan kepentingan rakyatnya, tidak berbuat kemaksiatan, dan tidak memanfaatkan jabatannya hanya untuk memperkaya diri, maka tidak ada pilihan bagi rakyat kecuali harus mendengar dan menaatinya.

“Barang siapa menaatiku, ia telah menaati Allah. Barang siapa menentangku, ia telah menentang Allah. Barang siapa menaati pemimpin (umat)ku, ia telah menaatiku, dan barang siapa menentang pemimpin (umat)ku, ia telah menentangku.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Al Hafidz Ibu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang kewajiban menaati penguasa dalam hal-hal yang bukan kemaksiatan. Hikmahnya adalah menjaga persatuan dan kesatuan (umat). Sebab perpecahan mengadung kerusakan.”

Pemerintah Melakukan Kemaksiatan

Jika pemerintah melakukan kemaksiatan, maka umat islam wajib harus membenci kemaksiatan tersebut. Dan jika pemerintah memaksa rakyat untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh menaatinya. Akan tetapi rakyat tetap harus mendengar dan taat dalam perkara kebaikan dan tidak boleh memberontak.

“Ingatlah, barang siapa mempunyai seorang penguasa lalu melihatnya berbuat kemaksiatan, hendaknya ia membenci pebuatan maksiat yang dilakukannya itu, namun jangan sekali-kali melepaskan ketaatan (secara total) kepadanya.” [HR. Muslim]

“Setiap pribadi muslim wajib mendengar dan menaati (pemerintahnya) dalam hal yang dia sukai dan yang tidak disukai, kecuali jika diperintah untuk melakukan kemaksiatan. Jika dia diperitah untuk melakukan kemaksiatan, tidak ada mendengar dan ketaatan kepadanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Hal ini tidak berarti tidak menaati pemerintah secara total ketika mereka memerintahkan kemaksiatan. Akan tetapi wajib menaati pemerintah secara total selain dalam hal kemaksiatan. Jika penguasa memerintahkan sesuatu yang bersifat sunnah atau mubah, maka wajib ditaati.

Menentang pemerintah dalam hal yang makruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari kejahatan yang mereka lakukan. Bersabar dari kejahatan mereka justru dapat mendatangkan ampunan dari segala dosa dan pahala yang berlipat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pemerintah Mencari Keuntungan Sendiri

Jika pemerintah mementingkan diri sendiri, memperkaya diri, dan tidak memperhatikan kepentingan rakyat yang dipimpinnya, maka kaum muslimin hendaknya bersabar. Rakyat tetap harus menunaikan hak-hak pemerintah dan tidak boleh memberontak. Kemudian memohon hak-haknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Akan ada perbuatan mementingkan diri sendiri (mengumpulkan harta dan tidak memedulikan kesejahteraan rakyat) pada pemerintah dan hal lain yang kalian ingkari.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda, “Hendaknya kalian memnunaikan hak (pemerintah) yang wajib kalian tunaikan, dan mohonlah kepada Allah hak kalian.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam memberikan bimbingan bahwa berbagai penentangan dan pemberontakan terhadap pemerintah bukanlah solusi untuk mendapatkan hak atau memperkecil ruang lingkup kejelekan yang dilakukan oleh pemerintah.

Solusinya adalah bersabar dengan berbagai kejelekan itu, menaati mereka dalam kebajikan, dan tidak menaati mereka dalam hal kemaksiatan, menunaikan hak mereka dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hak yang tidak dipedulikan oleh pemerintah, tidak menentang, dan tidak memberontak.

Dengan demikian hubungan antara rakyat dan pemerintah senantiasa utuh dan tidak tercerai. Bila hubungan ini sampai terkoyak, maka musibah besar yang bakalan terjadi.

Ojo Korupsi Ojo Ngapusi

Jumat, 23 Agustus 2013 Propinsi Jawa Tengah resmi memiliki gubernur baru, yaitu Bapak Ganjar Pranowo dan bapak Heru Sudjatmoko sebagai wakilnya.

Saya berharap beliau berdua dapat memimpin Jawa Tengah dengan penuh keadilan, sehingga tercipta suasana yang aman dan tenteram. Bila pemimpin berbuat adil, maka berhak untuk mendapatkan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebaliknya bila pemimpin berbuat curang terhadap rakyatny, maka telah tersedia baginya adzab yang menghinakan.

“Tidaklah seorang hamba diberi amanat sebuah kepemimpinan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mngharamkan baginya surga.” [HR. Muslim]

Saya berdoa semoga beliau berdua senantiasa mendapatkan hidayah, kekuatan, dan kesehatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga tuntas masa baktinya kelak. Aamiin.

Sumber Gambar:

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s