stop-demon

Lima Kerusakan di Balik Aksi Demonstrasi Massa

Seolah telah menjadi sebuah rutinitas. Ketika pemerintah berencana menaikkan harga BBM, maka hampir dapat dipastikan akan terjadi demonstrasi penolakan. Dan seperti biasanya mahasiswa menjadi elemen penting di dalamnya. Tidak terkecuali dengan demonstrasi tanggal 17 Juni 2013.

Seolah telah menjadi sebuah rutinitas. Ketika dilakukan demonstrasi, maka akan terjadi bentrokan antara massa peserta demonstrasi dengan pihak aparat kepolisian. Meriam air, gas air mata, batu, dan bom molotov adalah peralatan standard yang selalu hadir di sana.

Seolah telah menjadi sebuah rutinitas. Massa dalam jumlah besar yang terkumpul akhirnya keluar kendali dan melakukan tindakan anarkis. Membakar ban seolah telah menjadi simbol kegiatan yang harus dilakukan.

Aksi demonstrasi, yang katanya adalah anak kandung demokrasi, sesungguhnya menyimpan banyak kerusakan. Bila diperbandingkan, maka kemaslahatan yang ingin dicapai tidak akan ada artinya dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkannya. Baik kerusakan yang bersifat materiil maupun immateriil.

Berikut ini adalah lima kerusakan yang berhasil saya himpun dan hampir pasti terjadi di setiap aksi demonstrasi.

1. Mengganggu Ketertiban Umum

Kerusakan terkecil yang pasti terjadi adalah terganggunya ketertiban umum. Lalu lintas jalan raya di sekitar lokasi demonstrasi pasti terjadi kemacetan. Tidak jarang kemacetan merembet ke ruas jalan di sekitarnya. Kemacetan ini bisa berlangsung selama berjam-jam.

Selain kemacetan, aksi demonstrasi juga menerbitkan ketakutan bagi pengguna jalan. Baik yang menggunakan kendaraan bermotor, pejalan kaki, maupun pengguna jalan lainnya. Akibatnya aktivitas terganggu dan yang paling menderita adalah rakyat. Mereka yang berangkat dari rumah dengan niat mencari nafkah akhirnya terhambat karena jalanan tertutup.

Perlu untuk dicermati bahwa masyarakat sudah mulai jengah dengan segala macam aksi yang lebih sering menghadirkan gangguan. Sementara manfaat nyata yang ditunggu tidak kunjung datang. Rakyat hanya menjadi alasan tanpa mendapat balasan.

2. Kerusakan Fasilitas Umum

Massa dalam jumlah besar yang bergerak dengan dilandasi kemarahan seringkali tidak dapat dikendalikan. Tidak jarang mereka beraksi melampaui batas. Begitu ringannya mereka menggerakkan tangan untuk melakukan perusakan. Tidak tanggung-tanggung, gerbang dan pagar istana presiden pun pernah menjadi korbannya.

Sasaran paling empuk adalah kaca. Entah itu kaca lampu, kaca jendela toko, rumah makan dan lain-lain. Senjatanya adalah batu. Modusnya adalah melemparkan ke kaca, lalu bersembunyi di tengah kerumunan. Seolah dia telah lolos dari sangsi. Apakah dia lupa bahwa ada yang mencatat setiap perbuatan yang dilakukannya?

Merusak jelas lebih mudah daripada memperbaiki. Sehingga dapat dikatakan bahwa para demonstran hanya mau melakukan yang mudah-mudah saja. Apalagi mereka melakukannya dengan cara keroyokan dan tanpa target pecapaian.

Coba sesekali lakukan kegiatan yang sifatnya perbaikan. Misalnya secara sukarela menyapu jalanan yang kotor, mengeruk sampah yang menyumbat saluran, menghapus coretan vandalis, dan lain sebagainya. Ini jelas lebih sulit tetapi jauh lebih menantang dan bermanfaat.

3. Pencurian Kolektif

Setelah melakukan perusakan, tindakan selanjutnya adalah penjarahan yang sebenarnya tidak lebih dari aksi pencurian yang dilakukan secara berkelompok. Sekali lagi mereka berlindung kepada kerumunan masa. Sekali lagi mereka lupa, bahwa walaupun penjarahan dilakuan bersama-sama, namun kelak pertanggungjawaban akan dilakukan seorang demi seorang.

Siapa yang menjadi korbannya? Tentu saja toko dan warung yang berada di dekat lokasi demonstrasi. Toko dan warung yang menjadi gantungan mencari nafkah bagi sekian banyak orang yang masih berhak disebut sebagai rakyat.

Tidak heran bila di Makassar terjadi bentrokan antara demonstran dengan masyarakat. Dewasa ini masyarakat sudah semakin cerdas dan semakin kritis menengarai aksi demonstrasi yang hanya bersifat pencitraan. Kita juga sudah muak dengan aksi yang tidak menghasilkan manfaat nyata dan hanya menimbulkan kerusakan dan menerbitkan ketakutan.

Banyak aksi demonstrasi yang dilabeli atas nama rakyat. Namun ketika terjadi penjarahan harta rakyat, maka “slogan” ini perlu dipertanyakan.

4. Menjatuhkan Martabat Mahasiswa

Mahasiswa adalah kaum terpelajar karena berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, yang bagi banyak orang hanya impian tanpa kenyataan. Mahasiswa menempati kedudukan yang tinggi dalam struktur masyarakat. Merekalah mata rantai berikutnya dalam estafet pembangunan bangsa dan negara.

Namun sangat disayangkan, aksi-aksi demonstrasi yang mereka lakukan justru menjatuhkan martabat mereka. Seringnya aksi yang berakhir dengan kericuhan dan bentrokan dengan aparat keamanan telah mencoreng nama baik mereka sendiri. Belum lagi tindakan mereka melempari petugas dengan batu dan (alamak!) bom molotov. Tidakkah mereka memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua?

Inikah adab seorang pelajar? Inikah akhlak seorang cendekia?

5. Bahaya Lisan

Dalam setiap aksi demonstrasi biasanya ada provokator, yaitu mereka yang “bertugas” melakukan orasi. Celakanya para orator ini tidak membangkitkan semangat, tetapi membakar kemarahan dan menanamkan kebencian. Alih-alih menjelaskan maksud dan tujuan demonstrasi, mereka justru menjelek-jelekkan pemerintah.

Memang lidah tidak bertulang. Sehingga begitu ringan orang melontarkan kata-kata makian. Begitu mudah orang membakar amarah. Dan begitu cepat orang melemparkan laknat.

Orang yang selamat adalah yang dapat menjaga apa yang ada di antara kedua rahangnya dan di antara kedua pahanya. Yaitu lisan dan kemaluan. Mereka yang sudah berhati-hati pun masih bisa terpeleset, lalu bagaimana dengan mereka yang mengumbar omongannya. Sebagaimana pepatah mengatakan banyak omong banyak bohong.

Sementara itu para provokator tidak henti-hentiya berbicara. Berapa banyak racun yang telah ditebarnya? Berapa banyak kerusakan yang telah ditimbulkannya? Tidakkah mereka khawatir suatu saat omongan itu akan berbalik kepadanya?

demon-stration

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s