buah-apel

Pelajaran dari Buah Apel

Kasih sayang orang tua kepada anak bukan berarti harus memberikan segala yang diinginkan, tetapi cukup dengan memenuhi semua yang dibutuhkan.

Ceritanya anak sulung saya jatuh sakit. Suhu badannya sangat tinggi. Kami curiga penyakit tipus yang pernah menderanya datang kembali. Namun ada kemungkinan lain, yaitu dia terkena malaria atau demam berdarah. Mengingat di masa pancaroba kedua penyakit itu menelan korban cukup banyak. Terutama di kalangan anak-anak. Untuk memastikannya kami membawanya ke puskesmas agar mendapat penanganan lebih detail.

Setelah diperiksa di laboratorium ternyata positif terjangkit tipus seperti yang sudah kami duga sebelumnya. Beberapa tahun sebelumnya, ketika dia masih berusia sekitar 2 tahun, juga pernah terjangkit. Rupanya penyakit itu masih bersemayam di dalam tubuhnya mencari kesempatan ketika kondisi daya tahan tubuhnya menurun.

Ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian untuk menunjang kesembuhannya, yaitu minum obat, banyak beristirahat dan ada makanan yang sementara harus dihindari.

Urusan minum obat anak saya relatif mudah. Bahkan obat yang terasa pahit sekalipun dia masih mau meminumnya. Kami memberi pengertian bahwa ini adalah untuk kebaikannya sendiri. Jadi untuk urusan minum obat saya anggap tidak ada masalah berarti.

Penderita tipus seharusnya beristirahat total alias bedrest dan tidak boleh terlalu capek. Anak saya, ketika merasakan kondisi badannya sedang tidak enak, mau beristirahat dan hanya melihat adiknya bermain. Namun ketika kekuatannya sedikit pulih dia seperti lupa diri. Seperti lupa kepada penyakitnya dia bermain sampai kelelahan. Akibatnya, malam harinya dia akan ambruk lagi. Suhu tubuhnya meningkat tajam lagi.

Akhirnya kami harus bersikap tegas dengan melarangnya dari seluruh kegiatan yang dapat membuatnya kelelahan dan akan membuat kondisi tubuhnya menurun lagi. Kami bahkan untuk sementara harus melarangnya pergi ke masjid. Alhamdulillah, dia bersedia mematuhi dan kesehatannya meningkat dengan pesat.

Hal terakhir adalah tentang pantangan makanan. Satu orang yang sakit, satu rumah ikut berpantang makanan. Karena, namanya anak-anak, masih sulit dicegah bila makanan yang menjadi pantangannya tersedia di rumah. Oleh karena itu saya memutuskan untuk tidak menyediakannya sama sekali.

Saya juga terpaksa tidak memenuhi keinginannya ketika dia minta buah apel. Semua jenis buah adalah pantangan buat penderita tipus kecuali pisang dan avokado (alpukat). Dia memang sempat merengek, tetapi saya tetap tidak membelikannya. Sebagai gantinya saya membeli buah pisang sambil berjanji akan membeli apel bila kesehatannya telah pulih.

Saya melarangnya dari makanan yang sebenarnya halal itu bukan karena tidak sayang kepadanya, tetapi karena untuk sementara makanan itu berdampak tidak baik kepadanya. Larangan saya kepadanya adalah untuk kebaikannya sendiri.

Dari sini saya jadi merenung tentang doa manusia dan hasilnya. Kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada makhluk ciptaanNya adalah satu perkara yang tidak perlu diragukan lagi. Namun ketika kita berdoa ternyata ada yang segera dikabulkan, ada yang ditunda dan ada yang tidak dikabulkan sama sekali.

Berkaca pada kasus apel tersebut, saya jadi berpikir. Ketika doa atau permohonan kita tidak dikabulkan, apakah berarti apa yang kita minta itu adalah perkara yang tidak baik bagi kita? Bila demikian adanya berarti tidak dikabulkannya doa kita adalah tanda kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Betulkah demikian?

Sumber Gambar: http://www.earthtimes.org

One thought on “Pelajaran dari Buah Apel”

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s