uang-emas

Harta yang Tidak Bermanfaat

Sudah menjadi tabiat manusia mencintai perhiasan dunia. Tidak terkecuali kesukaannya mengumpulkan dan menghitung-hitung harta. Celakanya tidak semua harta dapat memberi manfaat. Bahkan ada harta yang hanya akan mendatangkan bencana kepada pemiliknya.

Di akhir Bulan Ramadhan ini saya ingin mengajak Anda untuk sejenak mawas diri. Untuk menilai dan menimbang apakah harta yang tidak lelah-lelahnya kita kumpulkan itu termasuk harta yang akan memberi manfaat atau yang hanya akan mendatangkan kebinasaan.

Ada dua jalan mengelola harta yang kita miliki sebagaimana diterangkan pada ayat di bawah ini.

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.

[Al-Lail : 1-11]

Pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa orang yang bertakwa dan beriman kepada hari akhir serta mau menginfakkan hartanya kelak akan diberi jalan yang mudah. Harta yang telah dia infakkan sesungguhnya tidak hilang. Bahkan harta itulah yang abadi dan dapat terus mengalirkan pahala.

Sedangkan mereka yang merasa cukup dan tidak mau beriman kepada hari akhir serta menahan hartanya kelak akan mendapati jalan yang sukar. Dan setelah dia binasa, maka harta yang ditinggalkannya tidak akan memberi manfaat kepadanya. Karena dia tidak mau berinfak, maka seluruh hartanya akan hancur bersama hancurnya dunia. Dan dia tidak memiliki tabungan untuk kehidupan di akhirat.

Dari sini kita dapat menarik manfaat bahwa harta yang kita infakkan dengan ikhlas itulah harta kita sesungguhnya. Sedangkan yang masih tersimpan di dalam kantong belum diketahui kelanjutan ceritanya. Bisa jadi kita akan menginfakkannya dan menjadikannya termasuk harta yang bermanfaat. Bisa jadi kita akan membelanjakannya untuk barang yang tidak berguna. Bisa jadi harta itu menjadi rezeki bagi orang lain.

Penjelasan selanjutnya dapat kita simak pada ayat berikut ini.

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.

Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.

Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

[Al-Humazah : 1-9]

Disadari atau tidak banyak orang yang terpedaya dengan harta yang telah dikumpulkannya. Dia merasa puas dengan kehidupannya di dunia dan berharap dapat menikmati hartanya untuk jangka waktu yang panjang. Di sisi lain dia paham betul bahwa kehidupan di dunia ini sangat terbatas. Ditinjau dari berbagai sisi kehidupan di dunia ini sangat terbatas.

Terbatas dari sisi waktu. Sangat jelas bahwa semua akan binasa. Terbatas dari sisi kekuatan dan kemampuan. Berapa banyak makanan yang dapat kita santap? Makan dua piring saja perut kita sudah terasa sangat penuh. Berapa kali kita mampu berjima’? Dua kali saja hasrat sudah habis dan badan sudan terlalu lelah untuk mengulang lagi.

Di sisi lain kita dapat berinfak tanpa batas. Berapapun harta yang kita miliki dapat kita sekehendak hati kita. Bila Anda menghendaki dapat menginfakkan seluruh harta seperti yang telah dilakukan oleh Abu Bakas Ash shidiq radhiyallahu ‘anhu.

Kesimpulannya, jangan sampai perasaan bakhil itu menghalangi kita untuk berinfak. Kita sesungguhnya hanya membutuhkan sedikit harta selama menjalani kehidupan di dunia. Sedangkan kita tidak pernah tahu berapa banyak harta yang harus kita infakkan agar selamat dari api yang menyala-nyala.

Demikianlah sedikit introspeksi diri yang dapat kita lakukan. Dan meninggalkan satu pertanyaan di sisa Ramadhan ini. Sudahkan kita membayar zakat?

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s