helmet-for-steal

Bukan Hilang, Tetapi Diambil Orang

Tiap makhluk memiliki ajal masing-masing. Ajal di sini memiliki makna yang sangat luas. Bagi manusia, hewan dan tumbuhan ajalnya adalah kematian. Ketika seorang manusia meninggal, berarti berakhirlah perjalanan hidupnya di dunia ini. Dia akan segera melakukan perjalanan lain di alam yang berbeda, yaitu alam kubur dan kemudian alam akhirat. Ketika seekor hewan mati, maka ini benar-benar merupakan akhir dari perjalanan hidupnya, karena tidak ada dunia lain baginya.

Sedangkan ajal bagi suatu benda adalah ketika benda itu mengalami kerusakan dan sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Itulah akhir perjalanan “hidup”-nya. Bentuk ajal lain adalah bila benda itu hilang. Tentu saja bukan hilang secara ajaib seperti pesulap menghilangkan asistennya dari dalam kotak peti. Tetapi hilang dalam arti diambil orang. Artinya kita tidak lagi memiliki hak untuk memanfaatkan benda itu. Bentuk ajal terakhir inilah yang belum lama ini menimpa saya.

Kisah bermula ketika saya ingin menikmati es kacang ijo di warung langganan saya. Warung tenda ini terletak di pinggir jalan, sehingga saya memarkir sepeda motor begitu saja di dekat warung itu. Helm saya gantungkan di kaca spion. Saya masuk dan memesan seperti biasa. Setelah selesai menikmati kacang ijo yang sangat lezat dan membayarnya saya bergegas keluar karena adzan isya’ tidak lama lagi akan dikumandangkan.

Saat itulah saya baru menyadari ternyata helm saya telah raib. Saya sempat melakukan pencarian barangkali terjatuh. Tetapi helm itu tidak ditemukan. Saat itulah saya menyadari bahwa helm saya telah diambil orang. Sejenak saya terpana. Sungguh luar biasa nyali orang ini, karena tempat duduk saya hanya berjarak sekitar satu meter dari tempat parkir motor. Perasaan saya campur aduk. Jengkel, marah, sedih, geli sekaligus takjub.

Saya sempat berkata kepada penjual kacang ijo, bahwa helm saya hilang. Bukan untuk minta ganti rugi, tetapi sekadar memberi tahu. Saya lalu melakukan pencarian ulang sekadar untuk memastikan dan helm itu tetap tidak ditemukan. Sehingga saya memutuskan untuk langsung pulang. Beruntung tempat kediaman saya sudah tidak jauh lagi. Jadilah saya meneruskan perjalanan tanpa pelindung kepala.

Di sepanjang perjalanan saya merenungkan tragedi yang baru saja saya alami. Rupanya saya telah meninggalkan dua kebiasaan pengamanan. Pertama, biasanya saya membawa helm itu masuk dan meletakkannya di meja. Ini cara yang paling aman karena helm itu bakalan selalu berada di bawah pengawasan saya. Kedua, kalaupun saya menggantungnya di spion biasanya saya memasang talinya, sehingga tidak mudah orang mengambilnya.

Tetapi saat itu saya menggantungkannya begitu saja di atas kaca spion. Keteledoran semacam ini tentu menjadi sasaran empuk bagi tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Kejahatan (dalam hal ini adalah pencurian) terjadi di antaranya karena ada peluang. Saat itu saya justru membuka lebar-lebar peluang itu. Sehingga sudah selayaknya saya sendiri yang harus menanggung akibatnya.

Akhirnya saya menyadari bahwa saya sudah tidak lagi memegang hak kepemilikan dan hak untuk menggunakannya. Helm itu telah berganti pemilik walaupun dengan cara yang tidak sah dan tidak terhormat. Ya. Buat saya helm kesayangan itu telah menemui ajalnya.

Sumber Gambar: http://www.sub5zero.com

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s