konversi

Konversi Mengubah yang Sia-sia Menjadi Berguna

Bagi para narablog profesional, konversi adalah kata sakti yang perlu selalu dikumandangkan. Apalah artinya pengunjung (traffic) yang berjibun bila hanya wara-wiri tanpa arti. Salah-salah justru hanya akan menghabiskan jatah lebar pita (bandwidth). Oleh karena itu pengunjung harus “dipaksa” menjadi pembeli, klik iklan atau apapun yang diinginkan oleh pemilik blog.

Inilah yang disebut sebagai konversi. Agar nilai konversi tinggi, seorang narablog akan berusaha mendatangkan pengunjung yang tertarget. Yaitu pengunjung yang memang sedang mencari barang atau jasa yang ditawarkan oleh sang narablog. Jadi tidak sembarang mendatangkan pengunjung.

Bila kita analogikan dengan masalah rizki, dua hal ini, yaitu pengunjung tertarget dan nilai konversi, ternyata merupakan panduan bagi kita dalam mengayunkan langkah. Bila salah dalam mengelola kedua hal ini dikhawatirkan hanya akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari dan sia-sia saja segala upaya yang telah kita kerahkan.

Pengunjung Tertarget

Bila kita analogikan pengunjung tertarget ibarat rizki yang halal. Yaitu rizki yang kita dapatkan dengan cara yang halal. Misalnya lewat keuntungan dalam perdagangan, bayaran atas jasa yang kita berikan atau gaji yang kita terima sebagai karyawan.

Sebagaimana narablog profesional tidak mau mendatangkan sembarang pengunjung, kita juga sudah semestinya berhati-hati dalam mencari rizki. Hanya rizki yang halal yang boleh kita terima sedang yang tidak halal harus ditolak.

Jadi langkah pertama adalah memastikan bahwa rizki yang kita terima berasal dari jalan yang halal. Baik itu cara mendapatkannya maupun hakekat barang atau jasa yang diperdagangkan. Yakinlah bahwa cara yang halal pasti tersedia di sekitar kita. Sedikit yang halal itu lebih baik dan terbuka peluang untuk dikonversi.

Nilai Konversi

Bagi narablog profesional pengunjung yang bejibun tidak ada artinya bila tidak dapat dikonversi menjadi penjualan. Begitu pula rizki yang halal akan habis tanpa sisa bila kita tidak melakukan upaya konversi.

Harus dikonversi menjadi apa? Menjadi pahala tentu saja.

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah shodaqoh jariyah. Yaitu shodaqoh yang akan terus mengalirkan pahala bagi kita walaupun kita telah meninggal selama hasil shodaqoh itu masih dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Misalnya kita berinfak untuk pembangunan masjid, maka selama masjid itu masih dipakai untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, selama itu pula kita masih akan mendapat aliran pahala.

Lalu kita juga memiliki kewajiban yang terkait dengan harta yang kita miliki dalam bentuk zakat fitrah dan zakat maal. Bila kita laksanakan dengan penuh keikhlasan juga akan menjadi ladang pahala yang sangat besar. Bahkan secara umum, seluruh harta yang kita nafkahkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga akan mendatangkan pahala. Sampai pun nasi yang kita suapkan ke mulut anak-anak kita.

Jadi sesungguhnya segala apa yang telah kita infakkan itu tidak akan hilang, bahkan akan abadi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan apa yang masih tersisa itulah yang tidak akan menghasilkan apa-apa dan akan tertinggal di dunia fana ini.

Satu hal yang harus diingat, seluruh pahala itu hanya dapat kita raih dengan harta yang halal saja. Sedangkan harta yang tidak halal tidak akan mendatangkan pahala, walaupun dipakai untuk membangun masjid. Semegah apapun masjid yang Anda bangun.

Sumber Gambar: http://www.philgalfond.com

One thought on “Konversi Mengubah yang Sia-sia Menjadi Berguna”

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s