space-shuttle

Arogansi Manusia

18 Januari 1986, Cape Caneveral, Amerika Serikat.

10 … 9 … 8 …

Hitungan mundur untuk peluncuran pesawat ulang-alik (space shuttle) Challenger. Ini adalah misi ke sepuluh dengan tujuh astronout di dalamnya.

7 … 6 … 5 …

Ignition …

Mesin utama menyala dan menyemburkan asap yang sangat tebal. Pesawat mulai bergetar.

4 … 3 … 2 …

Pemeriksaan terakhir. Semua instrumen bekerja dengan normal. Tidak ada tanda-tanda kesalahan.

1 … GO !

Pesawat meluncur dengan mulus dari landasan sambil meninggalkan gumpalan asap tebal. Orang-orang bersorak-sorai ketika pesawat membubung semakin tinggi. Melesat sambil berputar menggoreskan garis putih di angkasa. Proses peluncuran yang sempurna sesuai dengan rencana.

Tapi mendadak pesawat meledak dan menjadi bola api besar di langit. Bagian-bagian pesawat tercerai-berai kemana-mana. Badan pesawat, satu tabung bahan bakar utama dan dua tabung bahan bakar samping seluruhnya hancur.

Dunia terpana. Apa yang telah terjadi ? Apa yang salah ? Ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Yang tidak terduga oleh para teknisi dan tidak terdeteksi oleh seluruh peralatan mereka. Ada sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Tragedi memilukan ini memaksa NASA membatalkan semua misi hingga dua setengah tahun kedepan. Mereka melakukan penyelidikan dan pemeriksaan lengkap dan meyeluruh.

Hakekat Zarah

Pemahaman manusia tentang alam semesta dan lingkungan sekitarnya senantiasa berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh di sini kita ikuti perkembangan pemahaman manusia tentang zarah. Yaitu elemen terkecil dari suatu benda. Elemen terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Setidaknya pada masa itu.

Sebelum saya lanjutkan coba jawab pertanyaan ini, apakah elemen terkecil dari suatu zat yang tidak dapat dibagi lagi ? Silahkan buka kembali memorinya.

Awalnya manusia hanya membagi benda menjadi beberapa elemen dasar, yaitu air, tanah, api dan udara. Mereka percaya setiap benda terbentuk dari elemen dasar ini atau kombinasi dari beberapa elemen dasar di atas. Dengan berlandaskan elemen dasar inilah manusia menjelaskan lingkungannya.

Kemudian pengetahuan berkembang dan manusia menemukan molekul. Dan tidak butuh waktu terlalu lama bagi manusia untuk segera mengetahui bahwa molekul tersusun atas atom. Satu penemuan yang sangat memuaskan. Manusia percaya bahwa atom adalah unsur terkecil dari suatu zat. Keyakinan ini bertahan cukup lama hingga manusia bisa membelah atom dan menemukan proton, netron, dan elektron.

Inilah yang dipercaya sebagai unsur terkecil dan diajarkan di sekolah. Inilah zarah. Setiap atom pasti tersusun atas ketiga elemen dasar itu menurut jumlah dan konfigurasinya masing-masing yang sekaligus menentukan karakter atom itu. Manusia lalu menyusun daftar atom yang dikenal dengan susunan berkala unsur. Inilah daftar dari unsur terkecil yang tidak dapat dibagi lagi.

Hingga beberapa tahun yang lalu manusia berhasil membelah proton dan berturut-turut menemukan elemen yang lebih kecil yang dikenal sebagai quark dan lalu mezon. Keyakinan manusia pun berubah dan kebenaran harus ditulis ulang. Mezon inilah yang sekarang dianggap sebagai zarah. Pemahaman ini akan bertahan setidaknya hingga manusia berhasil membelahnya. Dan menemukan entah apalagi.

Batas Ilmu Manusia

Dua kisah ini bermuara pada satu hal sebagaimana telah dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya yang mulia:

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

[QS. Al-Israa’ : 85]

Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah pesawat ulang-alik itu adalah pencapaian yang sangat hebat ?” Betul sekali. Saya tidak akan menyanggahnya. Namun bila dianalogikan dengan rumah, apa yang dilakukan pesawat ulang-alik di batas atmosfir bumi hanya ibarat anak kecil yang sedang bermain di halaman rumah. Masih di dalam pagar.

Kisah tentang kunjungan manusia ke bulan, yang kontroversial dan diragukan kebenarannya itu, hanya seperti kita yang sedang bersantai di gazebo halaman belakang. Masih di dalam pagar. Kita bahkan belum mampu mengunjungi tetangga terdekat, yaitu tempat tinggal Mas Mars dan Mbak Venus. Sehingga layaklah bila dikatakan bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan melainkan hanya sedikit. Sebatas yang ada di dalam pagar.

Kisah kedua menujukkan kepada manusia kebenaran pepatah “di atas langit masih ada langit”. Setiap kali menembus batas pengetahuan, maka pengetahuan yang lama segera menjadi usang. Besar kemungkinan bahwa mezon bukan batas terakhir. Besar kemungkinan suatu saat dengan teknologi yang tepat, manusia akan membelah mezon dan menemukan sesuatu di dalamnya. Dan mezon seketika akan menjadi cerita lama.

Artinya, apa yang sudah diketahui manusia bukanlah puncak dari segalanya. Itu sekadar batas pengetahuan manusia. Di seberang batas itu masih luas lahan yang belum terjamah. Dan batas itu tidak hanya meliputi ruang melainkan juga waktu.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”.

[QS. Ar-Ruum : 7]

Bila sudah demikian adanya, sebaiknya kita mencontoh akhlak malaikat sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan di dalam al-Qur’an.

“Mereka (para malaikat) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

[Q. Al-Baqarah : 32]

Adakah kita mau mengambil pelajaran ?

Sumber Gambar: http://www.freepik.com

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s