rak-buku

Di Antara Rak Buku

Pasar favorit saya adalah toko buku. Dan setiap kali berkunjung saya harus selalu membawa uang atau tidak usah berkunjung sama sekali. Karena hampir pasti ada buku yang menarik saya. Kalau tidak siap modal bisa sakit hati dan terbawa mimpi.

Kali ini saya memperhatikan sesuatu yang menarik di dalam toko buku. Bukan bukunya, bukan tokonya, bukan pelayan atau kasirnya. Tapi tempat meletakkan buku itu. Hal ini saya perhatikan di beberapa lokasi toko buku besar di negeri ini. Mari kita telisik.

Tiga Tingkat

Secara umum saya klasifikasikan tempat dan cara meletakkan buku ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :

  • Di Dalam Almari
  • Di Atas Rak
  • Di Dalam Keranjang

Masing-masing lokasi menunjukkan kelasnya sendiri-sendiri. Atau bisa pula disebutkan sebagai “kasta” dari masing-masing buku. Begini penjelasannya.

Buku yang Tersimpan Di Dalam Almari

Buku-buku yang masuk ke dalam almari ini adalah buku yang paling mahal dengan harga mencapai angka enam digit. Biasanya hard cover dengan ukuran di atas A5. Cover buku-buku ini tampak dirancang dengan sangat baik. Sangat indah tanpa harus berlebihan. Isi buku juga ditulis dengan runtut dan mudah dipahami. Menunjukkan bahwa sang penulis benar-benar menguasai materi yang disajikan.

Almari kaca ini senantiasa dalam keadaan terkunci, sehingga tidak ada yang menyentuh buku yang ada di dalamnya. Kita hanya dapat melihat sampul depan dari kejauhan. Dan sejak buku-buku itu juga dibungkus plastik, maka saya sangat yakin pasti kondisinya masih sangat bersih seperti saat pertama keluar dari percetakan.

Ketika saya tertarik dengan salah satu buku, saya harus menghubungi petugas yang akan membuka pintu almari dan mengambil buku yang saya maksudkan. “Prosedur” ini membuat semakin sedikit orang yang “bisa” menyentuh buku-buku yang berada di dalam pingitan ini.

Inilah kelompok buku dengan kasta tertinggi. Kelompok yang telah terpilih sejak awalnya. Kita hampir-hampir dapat mengambil satu buku dengan mata tertutup dan tetap akan mendapatkan buku berkualitas.

Buku yang Tertata Di Atas Rak

Sebagian besar buku masuk di dalam kelompok ini. Karena jumlahnya yang sangat banyak, harus dibuatkan kategori untuk memudahkan orang yang mencari. Satu sisi satu kategori.

Kebanyakan buku berbandrol lima digit ini dibungkus plastik untuk menjaga agar tidak mudah kotor. Namun kita masih bisa mengambil dan menimangnya dengan leluasa. Kita juga dapat membaca resume yang tertulis di sampul belakang untuk mengetahui isi buku tersebut.

Kita harus hati-hati saat memilih di kelompok kasta kedua ini, karena kualitasnya yang beragam. Sebagian digarap dengan sistematis, namun tidak sedikit yang asal tulis. Nama besar penulis dan penerbit biasanya saya jadikan patokan utama. Dan kebanyakan bisa menjadi jaminan tidak salah pilih. Sementara hard cover bukan jaminan isi yang bermutu tinggi.

Buku yang Terserak Di Dalam Keranjang

Obralan dengan harga empat digit. Tidak dibungkus plastik. Banyak buku yang sudah terlalu lama nongkrong di sini tapi tetap tidak laku-laku. Campur aduk dan terserak.

Sebagian buku dicetak di atas kertas buram kualitas rendah. Beberapa yang lain dicetak di atas kertas HVS putih. Namun banyak yang sudah kotor bekas tangan-tangan yang menjamahnya. Mungkin ada juga yang telah membacanya sambil berdiri hingga tuntas.

Tidak semua buku di kasta terbawah ini berkualitas rendah. Bila kita mau mengaduk isi keranjang dan bersedia memelototi judul demi judul dan bila kita sedang beruntung, mungkin, sekali lagi mungkin, kita bisa menemukan buku yang cukup berguna di sini.

Dan Analoginya

Bila uang bukan kendala dan Anda dipersilahkan untuk memilih satu buku manapun yang Anda sukai untuk dimiliki, bagian manakah yang akan Anda tuju? Bila mencari buku dengan kualitas terbaik, tentu buku-buku yang tersimpan di dalam lemari bakalan menjadi tujuan pertama. Buku yang dipingit sejak keluar dari penerbit dan tetap terjaga hingga Anda membawanya pulang.

Bagaimana bila buku-buku itu dianalogikan dengan wanita ?

Pasti kita menginginkan yang terbaik pula. Wanita-wanita terpingit yang tetap suci hingga kita memboyongnya sebagai permaisuri. Ibarat buku-buku di dalam lemari yang tidak sembarang orang dapat memandangnya. Bukan buku di atas rak yang walaupun banyak yang berkualitas namun telah banyak tangan yang menjamahnya. Apalagi buku yang terserak di keranjang yang seperti tidak ada harganya.

Bila salah memilih buku, kita bisa setiap saat kembali dan mencari gantinya. Kalau salah lagi, bisa kembali lagi. (kalau masih salah lagi, saya sarankan Anda mencari hobi yang lain). Namun urusan dengan wanita tidak sesederhana itu. Kita tidak dapat seenaknya memilih lalu mencampakkannya. Pertanggungjawaban yang kita emban bakalan terbentang sejak di dunia hingga alam akhirat kelak.

Jadi pikirkanlah baik-baik dan pertimbangkan dengan matang, sebelum memilih dan menjadikannya sebagai one for good. Satu untuk selamanya.

Sumber Gambar: http://www.dezeen.com/

2 thoughts on “Di Antara Rak Buku”

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s