love-forever

I Love You Forever

Bicara tentang cinta memang serasa tidak ada bosannya dan tidak ada habisnya. Apalagi bila menyangkut kisah cinta antara dua insan. Tak terhitung lagi jumlah lagu yang telah ditulis untuk mencurahkan perasaan yang mengharu biru ini. Masih bertambah banyak dan tetap laku keras.

Belum lagi bila menghitung novel, cerpen, film, teater, puisi, legenda dan lain-lain. Rama-Shinta, Damarwulan-Minakjinggo, Romeo- Juliet, Sampek-Engtai, Zeus-Hera. Kelihatannya setiap bangsa memiliki kisah cinta (fiksi) masing-masing. Hingga di jaman (yang katanya) modern ini berbagai kisah dua insan yang senang berdua-duaan masih terus dibuat.

I Love You Daun Waru

Mungkin inilah frasa yang dipahami maknanya oleh (hampir) semua orang di seluruh dunia. Lebih dari itu, bentuk daun waru berwarna merah (atau pink) seolah telah diterima secara aklamasi di seluruh dunia sebagai lambang dari kata cinta.

Tidak diketahui kapan atau siapa yang pertama kali memakai lambang itu. Dan kelihatannya tidak perlu benar untuk menelusurinya kembali. Pokoknya daun waru sama dengan cinta. Titik.

Lalu berbagai variasipun muncul. Ada daun waru yang tertusuk panah yang melambangkan pemiliknya baru terkena panah asmara cupid (yang tidak jelas jenis kelaminnya).

Daun waru yang pecah melambangkan pemiliknya sedang patah/sakit hati. Daun waru yang berdenyut-denyut adalah visualisasi hati pemiliknya sedang berdebar-debar. Daun waru yang melayang pergi menunjukkan cintanya telah berlalu. (ada yang mau menambahkan ?)

Till Death Do Us Apart

Saya kira ungkapan di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita. Till death do us apart alias hingga maut memisahkan kita. Mereka yang sedang dimabuk asmara sering ikut mengucapkan “mantra” ini. Seolah merupakan perkataan wajib setelah menyatakan “I Love You”. Seperti janji atau cita-cita bahwa tidak ada yang dapat memisahkan (cinta) mereka kecuali hanya maut/kematian.

Ini sama artinya dengan komitmen seumur hidup. Tidak ada peluang bagi yang lain untuk sekadar singgah di hatinya. Suatu komitmen yang menuntut konsistensi pada pelaksanaannya. Karena pasti sangat banyak godaan dan gangguan yang merintang di sepanjang perjalanan. Sehingga (seharusnya) ungkapan ini tidak bisa sembarangan diucapkan.

Ikrar yang sekilas terdengar luar biasa ini ternyata menyimpan kesalahan yang sangat fatal. Ungkapan ini menunjukkan bahwa mereka merasa hanya di dunia yang fana inilah kesempatan mereka untuk mereguk kenikmatan. Mungkin karena mereka tidak tahu atau tidak percaya akan kehidupan akhirat. Mungkin juga karena merasa tidak berhak mendapat kebahagiaan di akhirat.

Oleh karena itu mereka mengejar kebahagiaan (apapun definisinya) di dunia ini dengan sepenuh kemampuan. Sepanjang waktu. Kadang dengan segala cara. Dan batasnya adalah kematian. Setelah maut menjemput maka habislah kesempatan mereguk kenikmatan, kesenangan ataupun kebahagiaan. The End. Game Over. Kematian adalah batas. Sehingga muncullah ungkapan ini.

Padahal berapakah panjang umur yang bisa mereka nikmati dalam kebersamaan? 50 tahun? 60 tahun? Itupun masih harus dibagi dengan pekerjaan. Dengan kesedihan yang terkadang “mampir”. Dengan kesulitan. Sesekali juga sakit. Belum lagi waktu yang kadang terbuang tanpa daya. Mengingat kenyataan ini kelihatannya penganut “aliran” batas maut memang layak untuk dikasihani.

I Love You Forever

Berkebalikan dengan aliran sebelumnya. Aliran ini justru lebih mengutamakan kehidupan setelah kematian. Tentu tanpa mengabaikan kehidupan saat ini. Kematian adalah gerbang menuju kebahagiaan yang hakiki. Tanpa rasa sedih, tanpa rasa lelah, tanpa sakit, tanpa waktu yang terbuang dan tanpa berbagi perhatian.

Dan yang lebih menyenangkan kita bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yang kita sayangi. Dengan keluarga, orangtua, anak-anak dan tentu saja istri tercinta. Karena kehidupan akhirat adalah abadi, maka kata-kata rayuan yang diucapkan adalah “I Love You Forever”. Mencintai untuk selamanya tanpa ada lagi batas waktu.

Ketika rayuan ini diucapkan saat masih di dunia, maka bisa dipandang sebagai cita-cita, atau janji, atau motivasi diri. Agar kita ingat dan bersemangat menyambut kebahagiaan yang abadi. Dan betapa fana kehidupan di dunia ini. Maka ucapkanlah “I Love You Forever”.

Ini tidak ada hubungannya dengan Batman Forever. Manusia bertopeng yang berlagak menjadi kelelawar dengan dalih untuk menyembunyikan jati dirinya dengan dua telinga lancip mencuat ke atas yang suka keluyuran di malam-malam yang kelam di jalanan Kota Gotham yang suram karena merasa kesepian sambil memamerkan kekayaannya berupa kendaraan super mewah berbekal segala macam amunisi dan berbagai peralatan super canggih sekadar untuk menangkap maling namun seperti menyelamatkan dunia dari kehancuran sehingga merasa layak untuk menyematkan gelar super hero di dadanya yang terbungkus kevlar.

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s