bakar-surat

Memorize and Destroy

Pada saat menerima kartu ATM dari bank pasti kita juga diberi amplop tertutup berisi PIN (Personal Identification Number). Lalu kita mendapat petunjuk untuk memorize and destroy. Yaitu PIN dihafalkan dan amplop dihancurkan agar tidak cibaca orang lain.

Pada kesempatan ini saya tidak hendak berbicara tentang ATM dengan PIN-nya, tapi tentang proses belajar. Sesungguhnya pada saat belajar kita juga dihadapkan pada proses yang sangat mirip. Yaitu menghafalkan pelajaran yang kita terima lalu bukunya bisa kita enyahkan.

Kali ini saya ingin berbagi tentang satu pepatah Arab yang berkaitan dengan proses belajar. Pepatah itu berbunyi :

“al ilmu fish shudur laa fis sutur”

“Ilmu terletak pada hafalan bukan di dalam buku catatan”

Inilah pendapat yang saya pegang saat ini. Bahwa ilmu harus dihafal. Dan yang namanya ilmu adalah yang sudah kita hafalkan bukan yang sudah kita tulis di dalam buku catatan. Tony Buzan bahkan mengatakan bahwa notes adalah alat untuk melupakan bukan untuk mengingatkan. Maksudnya apa yang sudah kita tulis bakalan segera kita lupakan.

Ilmu adalah yang Dihafal

Telah masyhur kisah tentang Imam Syafi’i rahimahullah yang mendapat hadiah sebuah kitab saat selesai belajar kepada Imam Malik rahimahullah. Dalam perjalanan pulang beliau membaca kitab tersebut dan sudah menghafal seluruh isinya saat sampai di rumah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menulis kitab “Aqidah al Wasithiyyah” hanya dalam sekali duduk. Beliau mulai menulis selepas Shalat Ashar dan selesai sebelum adzan Maghrib dikumandangkan. “Prestasi” semacam ini tidak mungkin dicapai bila beliau tidak hafal Al-Qur’an dan Hadits yang dijadikan dalil di dalam kitab ini.

Bayangkan bila tiap kali membutuhkan dalil harus mencari dulu di dalam buku rujukan. Berapa banyak waktu yang terbuang. Namun karena beliau telah hafal seluruh dalil yang dibutuhkan sehingga tinggal menuliskannya saja.

Metode Menghafal

Pada saat masih duduk di bangku sekolah menengah saya merasa memiliki hafalan yang sangat buruk. Lalu saya mendapat pengalaman yang mengubah pandangan ini.

Pengalaman pertama pada saat belajar Bahasa Arab. Ketika sampai pada pelajaran tentang fiil amr (kata kerja perintah) ustadz kami memberi contoh dengan doa masuk masjid. Saat itu saya belum menghafal doa ini.

Doa ini diuraikan dan dijelaskan kata per kata menurut kaidah Bahasa Arab. Lalu kami diminta membacanya. Dan, sungguh menakjubkan, karena ternyata saya bisa langsung menghafalnya. Memang bukan doa yang panjang, tapi bisa menghafalnya hanya dengan dua atau tiga kali membaca bukan kebiasaan saya.

Pengalaman kedua melewati proses yang sangat panjang. Demi menunjang profesi saya sebagai seorang arsitek, maka saya mengambil kursus AutoCAD. Agar bisa bekerja dengan efektif kami diajarkan untuk menggunakan perintah ketik alias tanpa toolbar. Posisinya tangan kiri di atas keyboard dan tangan kanan memegang mouse.

Dalam setiap sesi pertemuan kami mendapat beberapa perintah (command) yang harus dihafalkan kode perintahnya  dan dipahami cara menggunakannya. Awalnya tidak ada masalah karena jumlah perintah masih sedikit dan sederhana. Kondisi berubah ketika command makin banyak dan makin rumit. Bahkan kemudian ada sub command (perintah lanjutan dari satu perintah).

Saya lalu menyusun daftar command tersebut beserta fungsinya masing-masing. Lembar contekan itu saya letakkan di depan komputer. Tetapi ternyata daftar ini masih terus memanjang.

Hasilnya saya dihadapkan pada dua masalah. Masalah pertama, dengan semakin panjangnya daftar saya semakin sulit menemukan perintah yang saya butuhkan. Masalah kedua, pada saat tidak memegang contekan saya menjadi seperti orang buta.

Namun saya tetap tidak mau menyerah, tetap berusaha menghafalkan dan tetap tidak mau membuka toolbar. Segera saya bisa memperpendek daftar karena saya menghapus command yang sudah saya hafal. Tidak butuh waktu terlalu lama saya sudah bisa menyingkirkan daftar itu. Bahkan bila mendapat command baru saya sudah bisa segera menghafalkannya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman saya ini adalah dua metode untuk menghafakan.

Metode pertama adalah dengan menguraikan dan memahami materi yang hendak kita hafalkan. Dengan demikian kita tidak sedang menghafalkan kata-kata tanpa makna. Atau tidak seperti sedang menghafalkan mantra tanpa arti. Pemahaman ini yang akan membantu menghubungkan bagian demi bagian menjadi satu rangkaian yang utuh.

Metode kedua dengan membiasakan dan memakainya terus-menerus. Pengulangan ini yang membuat pelajaran terpatri di dalam hati yang akan muncul secara otomatis pada saat kita membutuhkannya. Bahkan bisa sampai pada tingkatan hampir tidak mungkin dilupakan.

Inilah pengalaman yang bisa saya bagikan. Anda juga punya pengalaman tentang dunia hafalan? Silakan berbagi di sini.

Sumber Gambar: http://crazzhky.deviantart.com/

About these ads

4 thoughts on “Memorize and Destroy”

  1. saya jadi ingat istilah ‘jembatan keledai’ suatu metode untuk menghubungkan hal-hal yang ingin kita hapalkan. tony buzan itu kalo gak salah yang terkenal sama metode mind map kan? itu juga salah satu trik menghapal.

    btw, maaf bang dje telah banget menanggapinya karena baru on di blog lagi, tanggal 6 mei kemarin bang dje nanya di blog saya soal naskah (membuat buku) apakah mau diteruskan atau tidak pembicaraannya?

    1. Tony Buzan memang mengkhususkan diri pada bidang pengembangan kemampuan otak. Dia juga menulis tentang super memori. Misalnya menghafal 100 item dengan sekali membaca. Saya pernah mencoba berlatih dan mampu menghafal satu daftar yang terdiri atas 20 item hanya dengan dua kali membaca. Masalahnya sekarang sudah malas berlatih lagi tapi ternyata masih mampu menghafal 10 item hanya dengan dua kali membaca atau mendengar.

      Ya. Saya telah menulis satu buku dan belum di-layout. Buku ini sekarang sedang dalam taraf diperiksa ulang. Saya memendam keinginan untuk menerbitkannya, tetapi belum memiliki koneksi dengan penerbit dan belum tahu prosesnya. Ada masukan?

      1. ada dua saran saya bang.
        pertama, abang, masukin ke penerbit mainstream nanti bisa saya bantu ider-iderkan naskahnya. untuk yang ini abang bisa buat gambaran global naskah abang, target pasar, keunggulan naskah.
        kedua, abang, terbitkan secara mandiri nanti bisa saya bantu untuk buat layout-nya sm buku pod (print of demand).
        ketiga, abang, bisa terbitkan melalui nulisbuku.com. layout bisa saya bantu + pod.

        itu saja sih menurut saya saran dari saya.

Ada tanggapan ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s